Ajakan Tante


Shioharimau.com, Lili, 27 tahun adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 tahun dan 2 tahun. Suaminya Aldo 34 tahun adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Jakarta. Perawakan Lili sebetulnya biasan saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk di pandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.

Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya di tambah dengan posisi Aldo yang di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Lili pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Yogi dalam hati Lili karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Lili tentang cinta.

Suatu siang, Lili sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari terlalu jauh dari rumah, maka Lili langsung mengejar mereka. Tapi tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Lili terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Lili langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Doni, anak tetangga depan rumah Lili kebetulan lewat mau pulang kerumah dia. Ketika melihat Lili sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya. Doni langsung lari ke arah Lili

"Kenapa tante?" tanya Doni...
"Aduh, lutut tante luka karena jatuh don...." ujar Lilis sambil meringis
"Bantu tante berdiri, Don..." kata Lili
"Iya tante," kata Doni sambil memegang tangan Lili dan di bimbingnya berdiri.
"Don, tolong bawa anak-anak tante kemari... Anterin ke rumah Tante ya.." kata Lili
"Iya tante..." Kata Doni sambil segera menghampiri anak anak Lili

Sementara Lili segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Doni mengantarkan anak0anak Lili kerumahnya, Lili sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.

"Ada obat merah tidak, tante?" tanya Doni
"ada di dalam, Don" kata Lili
"Kita ke dalam saja..." Kata Lili lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.

Doni dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.

"Ma, Udin ngantuk" kata anaknya kepada Lili
" tunggu sebentar ya Don, tante mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang" kata Lili sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.

Setelah mengantar mereka tidur, Lili kembali ke tengah rumah.

"mana obat merahnya, tante? " tanya Doni
"Diatas sana, Don..." kata Lili sambil menunjuk kotak obat

Doni segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas.
Tak lama Doni segera kembalidan mulai mengobati lutut Lili.

"Maaf ya, tante... saya lancang," kata Doni
"Tidak apa-apa kok, Don. Tante senang ada yang menolong," kata Lili sambil tersenyum.

Doni mulai memegang lutut Lili dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.

"Aduh, perih..." kata Lili sambil agak menggerakkan lututnya.

Secara bersamaan rok Lili agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Doni. Doni terkesiap melihatnya. Tapi Doni pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Lili menggoda mata Doni untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Doni agak berdebar.... biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekik tubuh Lili. atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Lili memakai celana pendek.

Doni biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Lili sambil onani. Tapi kini, didepan mata sendiri, paha mulus Lili sangat jelas terlihat. LIli sepertinya sadar kalau mata Doni sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Lili merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Doni sepertinya terkesima dengan sikan Lili tersebut. Doni menjadi malu sendiri.

"sudah saya berikan obat merah tante...." kata Doni
"iya, terimakasih" kata Lili sambil tersenyum
'sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi" ujar Lili sambil tersenyum.

Doni, 17 tahun adalah anak tetangga depan rumah Lili. Masih duduk di bangku SMA kelas 2. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Doni adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.

"Kenapa kamu nunduk terus, Don?" tanya Lili
"tidak apa-apa, tante..." ujar Doni sambil sekilas menatap mata Lili lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.
"Ayo, ada apa?" tanya Lili lagi sambil tersenyum.
"anu, tante... maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja..." kata Doni sambil tetap menunduk.
"Lihat apa?" tanya Lili pura-pura tidak mengerti.
"lihat..mmm....lihat ini tante? kata Doni sambil tanganya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Lili tersenyum mendengarnya.
"tidak apa-apa kok, Don" kata Lili
"kan hanya melihat... Bukan memegang," kata Lili lagi sambil tetap tersenyum.
" lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi." kata Lili lagi sambil tetap tersenyum.
"kamu kan tadi sedang menolong tante memberikan obat" kata Lili
"benar tidak marah tante?" tanya Doni sambil menatap Lili

Lili menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Doni pun jadi ikut tersenyum.

"tante sangat cantik kalau tersenyum" kata Doni mulai berani
"Ihh... kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu..." kata Lili
"saya berkata jujur loh, tante" kata Doni lagi
"Kamu sudah makan, Don?" tanya Lili
"Belum tate. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan" Kata Doni
"Makan disini saja, ya ... Temani saya makan siang" ajak Lili
"Baik tante, terima kasih" Kata Doni

Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Doni menyentuh kaki Lili. Doni kaget, lalu segera menarik kakinya.

"Maaf tante, saya tidak sengaja" kata Doni
"Tidak apa-apa kok, Don..." kata Lili sambil mata nya menatap Doni dengan pandangan yang berbeda.

Ketika kaki Doni menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Lili merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu... Tiba-tiba Lili merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Doni terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh...

"Kamu sudah punya pacar, Don?" tanya Lili sambil menatap Doni
"Belum tante," kata Doni sambil tersenyum
"Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan" ujar Doni lagi sambil tetap tersenyum. Lili pun ikut tersenyum.
"Kita habiskan dulu makannya.. Nanti kita bicara..." Kata Lili

“Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?” tanya Lili.
“Tidak ada, tante,” kata Doni.
“Tadi tante mau tanya apa?” kata Doni penasaran.
“Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?” tanya Lili.
“Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,” kata Lili lagi.
“Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?” kata Lili lagi.
“Iya, tante,” kata Doni .
“Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi…” kata Lili sambil tersenyum.
“Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,” kata Doni  tanpa ragu.
“Maksudnya tubuh bagus apa,” tanya Lili lagi. Doni agak ragu untuk menjawab.
“Ayolah…” kata Lili sambil memegang tangan Doni . Tangan Doni bergetar.. Lili tersenyum.
“Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus…” kata Doni dengan nafas tersendat.
“Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,” kata Lili pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Doni yang terus gemetar.
“Mm.. Lihat orang sedang begituan…” kata Doni.
“Begituan apa?” tanya Lili lagi.
“Ya, lihat orang sedang bersetubuh…” kata Doni.

Lili kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.

“Kamu suka tidak film begitu?” tanya Lili.
“Iya suka, tante?” kata Doni sambil menunduk.
“Mau coba seperti di film, tidak?” kata Lili.

Doni diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Lili mendekatkan tubuhnya ke tubuh Doni . Wajahnya di dekatkan ke wajah Doni.

“Mau tidak?” tanya Lili  setengah berbisik.

Doni tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Lili membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Doni. Doni tetap diam dan makin gemetar. Lili terus menciumi wajah Doni, lalu akhirnya dilumatnya bibir Doni.. Lama-lama Doni mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Lili.

“Masukkan tangan kamu ke sini…” kata Lili dengan nafas memburu sambil memegang tangan Doni dan mengarahkannya ke dalam baju Lili.
“Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Don.. Pegang buah dada saya,” kata Lili sambil tangannya meremas kontol Doni dari luar celana.

Sementara tangan Doni sudah masuk ke dalam BH Lili dan mulai meremas-remas buah dada Lili.

“Mmhh.. Terus sayang…” kata Lili.
“Tangan saya pegal, tante…” kata Doni polos.
“Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk…” ajak Lili sambil menarik tangan Doni. Sesampainya di dalam kamar..
“Buka pakaian kamu, Don…” ujar Li;li pun melepas seluruh pakaiannya sendiri.
“Iya, tante…” kata Doni.

Lili setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Doni terkesima melihat tubuh telanjang Lili. Seumur-umur Doni, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani. Kontol Doni langsung tegang dan tegak..

“Naik sini, Don…” kata Lili.
“Iya, tante…” kata Doni.
“Sini naik ke atas tubuh saya…” kata Lili sambil mengangkangkan pahanya.

Doni segera menaiki tubuh telanjang Lili. Lili langsung melumat bibir Doni dan Doni langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Doni meremas buah dada Lili yang tidak terlalu besar. Sementara kontol Doni sesekali mengenai belahan memek Lili.

“Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus…” desah Lili sambil memegang tangan Doni yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.
“Ohh.. Sshh…” kata Lili. Doni pun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Lili.
“Don, jilati memek ya, sayang…” pinta Lili.
“Tapi saya tidak tahu caranya, tante,” kata Doni polos.

“Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilati belahannya…” kata Lili setengah memaksa dengan menekan kepala Doni ke arah memeknya.

Doni langsung menuruti permintaan Lili. Dijilatinya belahan memek Lili sampai tubuh Lili
mengejang menahan nikmat.

“Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang…” desah Lili sambil meremas kepala Doni.
“Don, kamu jilati bagian atas sini…” kata Lili sambil jarinya mengelus kelentitnya.

Lalu lidah Doni menjilati habis kelentit Lili.. Lili kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.

“Teruss.. Sshh.. Ohh…” desah Lili sambil badannya semakin mengejang.

Pahanya rapat menjepit kepala Doni. Sementara tangannya semakin menekan kepala Doni ke memeknya. Tak lama..

“Ohh…” desah Lili panjang. Lili orgasme.
“Sudah, Don.. Naik sini,” kata Lili .

Doni lalu menaiki tubuh Lili . Lili lalu mengelap mulut Doni yang basah oleh cairan memeknya. Lili tersenyum, lalu mengecup bibir Doni.

“Mau tidak kontol kamu saya hisap,” kata Lili.
“Mau tante,” kata Doni bersemangat.
“Bangkitlah.. Sinikan kontol kamu,” kata Lili sambil tangannya meraih kontol Doni yang tegang dan tegak.

Doni lalu mengangkangi wajah Lili. Lili segera mengulum kontol Doni. Tidak hanya itu, kontol Doni lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Doni tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.

“Ohh.. Tantee.. Enaakk…” jerit kecil Doni sambil memompa kontolnya di mulut Lili.
“Masukkin ke memek,ya sayang…” kata Lili setelah dia beberapa lama menghisap kontol Doni.

Doni lalu mengangkangi Lili. Sementara tangan Lili memegang dan membimbing kontol Doni ke lubang memeknya.

“Ayo tekan sedikit, sayang…” kata Lili.

Doni berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Lili sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Doni berhasil masuk dan mulai memompa memek Lili. Doni merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolnya.

“Bagaimana rasanya, Don?” tanya Lili sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.
“Ohh.. Sangat enakk, tanttee…” kata Doni tersendat sambil memompa kontolnya keluar masuk memek Lili.

Lili tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tiba tubuh Doni mengejang. Gerakannya makin cepat. Lili karena sudah mengerti langsung meremas pantat Doni dan menekankannya ke memeknya. Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..

“Ohh.. Hohh…” desah Doni. Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Lili.
“Udah keluar? Bagaimana rasanya?” tanya tante Lili sambil memeluk Doni.
“Sangat enak, tante…” kata Doni.

Sejak saat itu Doni sering datang ke rumah Tante Lili jika sedang sepi dan minta jatah lagi.





www.shioharimau.com/register
 
Share on Google Plus

About PaitoHarimauPutih

0 comments:

Post a Comment