Anakku Pelampiasan ku


Shioharimau.com, Kalau gw diam, orang akan mengatakan, ”Begitulah janda, tak bisa cari uang setelah ditinggal mati suaminya.” Kalau gw tidak keluar rumah, orang akan mengatakan, ”Selalu berkurung diri, pasti sudah kehilangan akal setelah dicerai suami.” Kalau gw keluar rumah dan tentu saja gw bersolek, orang berkata, ”Dasar janda, pasti keluar cari laki-laki, jelas saja dicerai oleh suaminya.” Apa saja yang gw lakukan selalu saja salah di mata orang lain, terlebih para tetangga.

Namun gw tak peduli lagi. Apa pun kata tetangga, gw akan keluar rumah dan mencari uang untuk anak semata wayang gw. Dia sudah SMA dan dia butuh biaya. gw harus menyekolahkannya setinggi mungkin, agar kelak hidupnya bahagia.


Ketika gw keluar rumah dalam usia gw yang 34 tahun, banyak saja laki-laki iseng menggodaku. Mata mereka membelalak melihat tubuh gw, terutama belahan dada gw. Atau mungkin perasaan gw saja. gw semakin sensitif setelah gw jadi janda. Tapi salahkan gw , kalau gw membutuhkan laki juga? gw  adalah perempuan normal dan kebutuhan seks gw masih tinggi.


gw sengaja tidak menyewakan lagi kios di pasar. Dulunya gw berjualan di sana, kemudian suami gw melarang gw jualan, karena banyaknya laki-laki iseng menggoda gw. Akhirnya kuputuskan untuk tidak berjualan lagi. Setelah suami gw menggila dengan perempuan lain, gw minta cerai dan gw  ingin berjualan kembali. gw mulai membenahi kios tempat gw berjualan. gw berjualan garmen (pakaian jadi). gw mengikuti selera anak muda dan remaja yang suka pada mode-mode pakaian terbaru.


Setelah membuka kios, gw mendapatkan pelanggan. Seorang laki-laki berusia 21 tahun. Ganteng dan entah kenapa gw begitu cepat tertarik kepadanya. Wajahnya begitu baby face dan rapi. gw mulai menggodanya. gw lupa siapa diriku yang sudah berusia 34 tahun. Ah, senyumnya begitu memikat. Ketika dia masuk ke sebuah sudut yang hanya ditutupi oleh kain tirai untuk mencocokkan celana jeans yang dia beli, gw mengikutinya. gw yakin dia sudah membuka celananya dan gw masuk ke dalam. gw pura-pura terkejut. Dia tersipu malu.


"Bagaimana, pas?" tanya gw.

"Kurang besar sedikit, Mbak," katanya.

"Apanya yang kurang besar? Mungkin ’anu’ nya yang kegedean?" tanya gw mengarah. Dia tersenyum.

"Pasti pacarmu puas pacaran denganmu," kata gw.

"Kenapa, mbak?" tanyanya lagi.

"Habis, besar dan panjang," kata gw melirik kontolnya dan memek gw sudah mulai berdenyut-denyut. Yah, sudah tujuh bulan gw tidak merasakan ada kontol yang masuk ke memek gw lagi.


"gw belum pernah punya pacar mbak. Apa mbak mau?" katanya merayu. gw terkejut atas jawabannya yang to the point itu.

"Apa lu sudah pintar?" kata gw.

"Belum sih. Tapi mbak kan bisa mengajari gw nanti," katanya, seperti serius.

"Boleh juga," kata gw pula to the point.

Hari pertama buka, gw sudah banyak laku. Mungkin penataan pakaian yang gw letakkan di kios berukuran 4 X 4 meter itu membuat para remaja terpikat. Inilah saatnya, pikir gw pula. gw tak boleh melepaskan kesempatan ini, bisik hati gw pula. gw akan menjaga diri gw tidak hamil dengan meminum jamu peluntur yang ampuh, Rumput Fatimah yang manjur itu.

Leo, begitu namanya dan katanya baru setahun lulus SMA dan tidak melanjutkan kuliah, karena kalah ujian UMPTN dan akan akan mencoba lagi tahun depan. gw masuk ikut ke dalam kamar pas. Setelah pakaiannya pas, gw tak melepaskan kesempatan itu. gw langsung memeluknya dan mencium bibirnya dan mengelus-elus kontolnya. Dia gelagapan membalas ciuman gw. gw mempermainkan lidah gw di dalam mulutnya. Dengan cepat gw lepaskan ciuman gw, begitu mendengar ada mobil parkir di depan kios gw. Ah, ternyata mobil orang yang mau belanja ke kios lain.


Leo keluar dari kamar pas dan membayar celananya. Rasanya enggan gw menerimanya. Tapi mana tahu dia tidak suka pada gw, maka sia-sialah sebuah celana. Kalau dia suka kepada gw, besok lusa, gw bisa memberinya lebih.

Kami cerita-cerita di kios dan gw memesan segelas juice orange agar obrolan sedikit lama dan gw  bisa mengorek sedikit banyak tentang dirinya. Akhirnya kami berjanji untuk pulang sama-sama. gw  cepat menutup kios gw dan kami pulang naik bus. Di sebuah persimpangan kami turun dan memasuki sebuah hotel kecil yang bersih. Kami menyewa kamar yang termurah. Begitu pintu gw kunci, gw langsung menyerbunya dan menciumi kembali bibirnya dan mempermainkan lidah gw di dalam mulutnya. Tak gw lupa gw elus-elus kontolnya dari balik celananya. Begitu cepat kontolnya bangkit dan berdiri. Leo harus mendapatkan kenikmatan yang pertama dari gw. Dia harus merasakan bagaimana nikmatnya bersetubuh dengan seorang perempuan. gw juga harus mendapatkan segalanya darinya.


Dengan cepat gw buka pakaianya dan pakaian gw juga. Tak gw sia-siakan kesempatan itu. gw mulai beraksi dan menjilati sekujur tubuhnya yang atletis itu. Langsung saja gw hisap kontolnya. gw  menyaksikannya menggelepar-gelepar, seperti ikan yang tertangkap. Sebentar lagi dia akan sampai ke puncak nikmat. gw tak ingin menyia-nyiakannya. Dengan cepat lidah gw bermain di kepala dan batang kontolnya. Lalu gw merasakan spermanya keluar dari batangnya. Terasa penuh rongga mulut gw.


Banyak sekali spermanya. Gleeekkk... gw menelannya.

Yah, gw sendiri merasa heran, kenapa itu gw lakukan, sementara kepada suami gw sendiri, gw tak pernah melakukannya. Ternyata sperma itu, enak juga rasanya. gw menjilati sisa sperma di batang kontolnya dan kami rebahan dengan senyum yang mengembang.


Dua jam lamanya kami istirahat di atas ranjang. Kami ke kamar mandi untuk buang air kecil. gw  menyabuni kontolnya sampai bersih. Dari kamar mandi ke ranjang, gw memeluknya. gw sudah sangat ingin kontolnya memasuki memek gw. Di atas ranjang gw kembali menciuminya. gw minta dia mengisap-isap tetek gw. Mulanya, dia agak kaku mengisapnya. gw yakin sekali kalau dia belum pernah mengisap tetek pacarnya, apalagi bersetubuh dengan pacarnya. Berciuman saja dia masih kaku, apa lagi bersetubuh. Dia belum tahu bagaimana caranya memuaskan perempuan. gw harus mendidiknya dalam beberapa kali lagi. Tapi kali ini, gw ingin sekali kontolnya bisa memasuki lubang memek gw.


Setelah kontolnya mengeras, dengan cepat gw menaiki tubuhnya dan mengangkangi kedua kakinya, lalu memasukkan kontolnya ke dalam memek gw. Dengan cepat gw menggoyangnya dari atas tubuhnya. gw mencari-cari titik-titik sensitif di dalam memek gw. Begitu ketemu, gw memusatkan gerakan gw khusus untuk itu. gw harus sampai ke puncak lebih dahulu. Benar saja. Leo sudah kembali merasakan sensasi nikmat dari goyangan gw. Sebentar lagi dia akan sampai dan gw harus mendahuluinya jika tak ingin kehilangan kenikmatan.


Kujilati lehernya dan tetek gw gesek-gesekkan ke dadanya. Lidahnya yang dia julurkan gw isap-isap dengan lembut, sementara tangan gw mengelus-elus kepalanya. Laki-laki mana yang tak senang kepalanya dielus-elus dengan lembut. gw lebih cepat lagi menggoyang dan menggoyang. gw tekan kuat-kuat, hingga batangnya mentok di ujung paling dalam memek gw. gw memutar-mutar pantatgw hingga gw merasakan ujung kontolnya menggesek-gesek ujung memek gw yang terdalam. Dan... gw  pun sampai ke puncak kenikmatan. gw memeluknya kuat sekali dan terus menekan lebih dalam lagi kontolnya ke dalam memek gw . gw gigit-gigit lehernya, membuat dia kelimpungan. Dan gw  merasakan semburan lahar panas dari dalam batang kontolnya. Leo sampai ke puncaknya.


Sejak saat itu, kami selalu melakukan persetubuhan kami. Leo semakin hari, semakin pintar bersetubuh.


gw bukan haus seks namanya, kalau gw puas hanya dengan Leo. Setelah gw muak dengannya, gw  mencari mangsa lain. Paling setiap dua minggu sekali gw memberinya sebuah celana jeans model terbaru. Makan atau minum serta rokok sebungkus setiap kali kami pergi ke hotel. Untuk anak-anak pemula, biayanya tak perlu banyak. Yang penting rayuan kita dan pintar memujinya.


Terserah apa kata orang lain terhadap gw. gw butuh kontol dan seks. gw butuh kenikmatan. Yang penting gw tidak hamil.


"Mau beli apa, Dik?" tanya gw kepada seoang pembeli yang berseragam SMP.

"Mau beli sepatu untuk Basket, Tante." katanya sembari melihat-lihat contoh sepatu yang  gw pajang. Seketika itu juga hati gw berkata. Alangkah gantengnya anak ini, masih kecil sudah begini gantengnya, bagaimana kalau sudah dewasa, bisik hati gw.


"Untuk anak ganteng seperti lu, akan Tante berikan harga yang termurah." kata gw merayu. Dia melirik gw dengan senyumnya.


Ah, hatiku bergetar. Apakah gw sudah gila, gw harus mencintai laki-laki berusia 15 tahun, hanya dua tahun di atas usia anak gw? gw dekati dia dan gw bantu memilihkan sepatu yang cocok untuknya. Tingginya sebahu gw. Aku sengaja mendekatinya agar gw bisa mengukur tingginya. Namanya Hery.


"Lu sendirian saja belanja? Kenapa enggak ditemani pacar?" kata gw menggodanya.


"Belum punya pacar, tante." katanya malu-malu.

”Nanti kalau pakai sepatu baru, pasti ada perempuan yang suka kepada lu," kata gw memuji.


"Siapa, Tante? Tante ya?" katanya dengan bijak, tapi matanya terus memilih sepatu.

"Kalau iya, apa kamu mau sama tante. Tante kan sudah tua? Tapi namanya cinta kan tidak membedakan umur, kan?" kata gw pula bergenit-genit.


"Katanya cinta itu buta kok, Tante," katanya pula sok pintar. Sewaktu dia mau mengambil sepatu yang terletak agak di atas, aku sengaja membantunya mengambilkan dari belakang. Sengaja kugesekkan tetekku ke punggungnya dan menyentuhkan perutku ke pinggangnya. Ah, lagi-lagi memek gw berdenyut kencang.


"Ah, anak ganteng. Andaikan lu pacar tante, akan tante ajari lu berciuman," kata gw setengah berbisik, tapi gw sengaja dia mendengar ucapan gw. gw lihat dia tersenyum, walau dia sengaja menyembunyikan senyumnya.Entah kenapa gw yakin sekali, mampu memperoleh anak ini sebagai teman kencan gw. gw tak mau berkencan dengan laki-laki tua yang egois. gw mau anak muda yang bau kencur, manja dan masih baru belajar. gw bangga mengajarinya pintar soal seks. Dia harus mendapatkan pelajaran seks pertama dari gw. Itulah tekad gw.


gw buka tali sepatu dan gw masukkan ke kakinya. Dia duduk di kursi dan gw berjongkok di lantai. Dengan menunduk gw memperlihatkan buah dada gw dan selangkangan paha gw kepadanya. gw  tahu dia mulai melirik ke sela-sela paha gw  dan sesekali matanya juga menatap tajam ke belahan dada gw. Anak laki-laki sekarang memang cepat sekali mengetahui soal seks. Apakah soal gizinya yang sudah cukup atau dia sudah mampu mengakses internet, hingga sudah bisa mengetahui banyak hal tentang seks? Entahlah. gw tak perduli dan gw harus mendapatkannya.

"lu ganteng sekali, Hery. Mau ya jadi pacar tante?" kata gw.


"Tante enggak punya suami?" tanyanya sembari mengikat tali sepatunya. Pertanyaan anak kecil kah ini? Atau pertanyaan orang dewasa.

"Tante sudah bercerai. Tante nggak mau dimadu, tante minta cerai," kata gw bergenit-genit.

"Pacaran itu enak nggak, Tante?" tanyanya.

"Wah, tentu enak. Kalau tidak, mana mungkin orang pacaran," kata gw sembari memasukkan satu lagi sepatu ke kakinya. Pembeli memang lagi sepi sore itu.


"Kalau tante jadi pacar gw, kita ciuman?" katanya bertanya. Tapi tangannya terus membetuli sepatunya, seperti dia sedang bicara sesuatu yang lain. Orang lain tidak akan tahu apa yang sedang kami bicarakan.


"Tentu dong. Kalau kamu belum pernah ciuman, nanti tante ajari," kata gw meyakinkannya.Harga sepatu sudah jadi. Harganya pas sesuai harga beli. gw tidak beruntung sedikitpun. Dia membayarnya dan menuliskan sesuatu di atas kertas. Ternyata dia menulis nomor phone cell-nya. gw tersenyum.


Sorenya gw iseng menekan tuts HP gw ke nomornya dan mengirimkan SMS padanya. "Hallo, Sayang. I Love u," tulis gw.


Tak lama, SMS gw terbalas. "I Love u 2" katanya. Dari SMS, dia mengatakan akan datang ke kios gw sebelum gw tutup, dia mau mencium gw dan meminta gw agar mengisap kontolnya seperti yang dia tonton di VCD porno.

gw langsung menjawabnya, ”Ok, gw pasti menunggumu.”


Benar saja. Ketika gw mau tutup, dia sudah berada di depan gw dengan pakaiannya yang lain dan sudah mandi bersih. Dia masuk ke dalam kios dan duduk di sebuah sudut. Nekat juga anak ini, pikir gw. Apakah dia serius atau ini sebuah jebakan? gw melihat ke sekitar, ternyata tak ada tanda-tanda dia membawa orang lain. Cepat gw tutup pintu kios dan melihat kondisi, meyakinkannya benar-benar aman. Setelah pintu gw kunci, gw mematikan lampu dan langsung menyerbunya. gw ciumi bibirnya dan gw memeluknya sembari meraba-raba kontolnya. gw merasa kontolnya sudah tegang dan keras. Hary meremas-remas tetek gw dari balik pakaian gw. Setelah puas meremas-remas tetek gw dan tangannya dia masukkan ke dalam bra gw, dia memeluk gw.


"gw berdiri yang tante," katanya.

"Untuk apa, Sayang?" sahut gw.


Dia tak menjawab pertanyaanku. Langsung saja dia berdiri dan gw masih duduk di kursi pendek, dia keluarkankan kontolnya dan ia rahkan ke muka gw. Cepat  gw tangkap kontolnya dan segera menghisap-hisap serta menjilatinya penuh nafsu. Dia memegangi kepala gw saat aku memaju mundurkan kontolnya di dalam mulut gw .

gw tak mau dia mengeluarkan spermanya di dalam mulut gw, karena gw butuh kontolnya masuk ke dalam memek gw . Jadi gw buka celana dalam gw dan gw angkat rok gw ke atas.


"Kamu duduk di kursi, Sayang," pinta gw. Setelah dia duduk, gw menaikinya. Kedua telapak kakigw bertumpu ke sisi kursi dan gw jongkok mengarahkan memek gw ke kontolnya. Perlahan kontolnya memasuki memek gw  yang sudah sangat basah. gw segera menggoyangnya dan memutar-mutar pantat gw hingga kontolnya berada pada ujung memek gw  yang paling dalam. Ternyata anak ini jauh lebih pintar dari Leo. Walau usia Leo sudah 19 tahun, tapi Hary memang pemuda yang kelihatan banyak menonton film porno. Dia memeluk gw kuat-kuat dengan gemas.


"Cepat, Tante, Hary sudah mau keluar," bisiknya takut didengar orang dari luar kios. gw juga harus lebih dulu keluar dan mencapai puncak kenikmatan gw. gw putar dan gw goyang pantat gw semakin cepat sampai akhirnya gw merasakan suatu getaran halus dari dalam diri gw. gw sampai ke puncak nikmat gw. gw tekan kuat-kuat tubuh gw sampai Hary merasa terbebani oleh tubuh gw . Lalu dia juga menyemprotkan spermanya ke dalam memek gw. Kami berpelukan erat.

Hary seorang anak laki-laki yang masih sangat remaja. Orang-orang selalu berkata, kalau bersetubuh dengan anak remaja tingting, kita harus sabar dan harus pandai meuji-mujinya. Pujian, adalah kesukaan mereka dan pujian adalah keinginan setiap laki-laki remaja.

"Kapan lagi, Tante?" katanya sambil meremas-remas tetek gw.


"Kapan saja, Sayang. Tapi kalau bisa, kita harus di hotel biar bebas," kata gw. Dia menyanggupi.

Sejak saat itu, kami mulai melakukannya, bukan di hotel saja, tapi lebih sering di villa orangtua Hary. Ternyata Hary anak orang yang maha kaya. Hampir setiap malam SMS-nya terkirim untuk gw. Kata-katanya sangat mesra, layaknya dua remaja sedang bercinta. Inilah petaka buat gw. Dalam kekhilafan gw, anak gw membaca semua SMS itu, ketika tak sengaja HP gw tertinggal di rumah.


Begitu gw pulang dari kios, Putra, anak gw, langsung memberondong gw dengan sejuta pertanyaan. ”Siapa Hary itu?”


Darah gw langsung berdesir. gw berusaha berbohong. gw mengatakan kalau Hary adalah pelanggan gw. Tapi Putra meminta gw jujur. gw menekankan kalau Hary adalah pelanggan gw. Tapi Putra  menunjukkan selembar kertas, isi SMS Hary kepada gw yang sudah dia salin kembali. gw tertunduk tak bisa menjawab."Malam ini Mama juga mau ngentot nggak sama Putra?" katanya. gw  memberikan penjelasan, kalau dia masih SMP dan belum boleh melakukannya. Lagian, dia juga anak gw!


"Hary juga kan masih SMP, Ma?" katanya tegas.

”Tapi dia bukan anak gw,” kata gw tegas.

Putra terus memaksa, dia mengancam akan menceritakan semua ini kepada neneknya (ibu gw). Dia memang sangat dekat dan dimanja oleh ibu gw. Mati gw , bisik gw. gw diam saja. Tetap berusaha menolak bersetubuh dengannya.

Besoknya, Putra tidak pulang ke rumah.
gw hubungi HP-nya, tidak aktif. gw sangat kesal. gw juga takut kalau-kalau Putra pergi entah kemana. gw hubungi teman-temannya, mereka juga mengatakan tidak tahu Putra pergi kemana. Menurut salah seorang temannya, Putra sudah membawa beberapa setel pakaian dalam ranselnya.


gw menghubungi ibu gw. Beliau juga terkejut dan malah gw dimarahi kalau sampai cucunya tak ditemukan. gw mengatakan hanya terjadi pertengkaran kecil saja dengan Putra . gw berbohong kepada ibu gw.


Esoknya gw tidak buka kios dan gw ke sekolahnya, ternyata Putra tidak masuk sekolah. Dua hari dia tidak masuk sekolah dan gw sudah kesusahan. Apakah dia pergi ke rumah ayahnya? Kalau itu yang terjadi, gw bakal kehilangan dirinya untuk selama-lamanya, apalagi kalau Putra sempat bercerita kepda ayahnya tentang pacar gw yang bernama Hary. Hak mengasuh anak akan jatuh ke tangan suami gw.


Tidak ingin itu terjadi, segera gw kirimkan SMS kepada Putra. "Sayang, pulanglah. Mama sangat rindu. Apa pun yang Putra minta, akan mama kabulkan."


Dada gw berdetak keras menunggu jawabannya. gw berharap Putra mau pulang ke rumah, karena dia adalah milik gw satu-satunya. Tiba-tiba HP gw bergetar. Segara gw buka. Dari Putra. "OK, Sayang. gw sedang menuju pulang," katanya.


Seeerrrr... darah gw terasa kembali mengalir. Cepat gw membenahi diri gw . gw tak mau kelihatan kusut. gw menunggu Putra. Detik-detik terasa sangat lambat sekali dan membosankan. Bagaimana Putra yang sudah tiga hari tidak bertemu dengan gw. Apakah dia sehat?

Kembali darah gw  berdesir begitu melihat Putra sudah berada di ambang pintu rumah.
gw songsong dia dan gw peluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang. Dia cepat masuk ke dalam rumah dan menutup pintu lalu menguncinya. Di seretnya gw ke dalam kamarnya.


"Ada apa, Sayang?" kata gw. Putratak menjawab. Dia membuka semua pakaiannya dan bugil.

"Mama buka juga," katanya seperti memerintah. gw terkesima. Sampai akhirnya Putra yang mendatangi gw  dan membuka semua pakaian gw. "Sesuai janji dalam SMS," katanya.


gw terdiam pasrah, gw biarkan dia membuka seluruh pakaian gw sampai gw telanjang bulat. gw biarkan dia melihat seluruh tubuh gw. Ingin rasanya gw mencekik dan membunuhnya karena dia telah memperlakukan ibunya seperti ini. Tapi mana bisa, kehilangan dia dua hari saja sudah membuat gw kelimpungan!


Putra memeluk gw dan mengisap tetek gw. Lalu dia meraba memek gw dan memasukkan jarinya ke celah-celah memek gw. Mulanya gw biasa saja, tapi lama kelamaan gw menjadi bergetar juga. Semua yang dia lakukan, persis seperti apa yang dilakukan oleh Hary. gw baru sadar, kalau dia sudah membaca semua SMS Hary. Semua yang dilakukannya kepada gw, Hary tulis di dalam SMS yang dia kirimkan. Putra mengikuti isi SMS Hary itu rupanya. Dasar gw perempuan yang haus akan seks, rabaan Putra anakku itu membuatku birahi juga pada akhirnya. gw birahi dengan anak kandung gw sendiri.


Didorongnya gw ke ranjang. Lalu dikangkangkannya kedua paha gw dan ia mulia menjilati lubang memek gw dengan rakus. Lagi-lagi gw mengingat isi SMS Hary pada gw yang puas menjilati memek gw. gw jadi lupa kalau yang sekarang sedang melakukan itu kepada gw adalah Putra, anak gw sendiri. gw mengimbanginya dengan mengelus-elus kepalanya. Perut gw sudah pula dijilatinya dan kini mulutnya sudah menjilati dan menghisap-hisap lagi tetek gw. gw menggelinjang. Anak yang hampir 13 tahun itu begitu rakus dan begitu beraninya memperlakukan gw seperti kekasihnya sendiri.


Sambil gw memberikan respon, gw bertanya kepadanya. "Apakah sebelumnya kamu sudah pernah melakukan yang seperti ini, Sayang?" kata gw.


"Sudah!" jawabnya singkat dan terus menjilati tetek gw.


"Sama siapa, Sayang?" gw jadi gelisah dan resah sembari menikmati juga jilatan dan hisapannya.


"Sama Bibi," katanya. Ah, bajingan! Ternyata anak gwsudah melakukannya dengan adik perempuan gw yang juga baru saja bercerai.

"Dimana, Sayang?"

"Di rumah nenek."

"Kapan, Nak?"

"Bulan lalu,"

"Berapa kali, Nak?"

"Enam kali," katanya tanpa ragu. Pantas Putra sudah ketagihan seks, karena dia sudah merasakan nikmatnya seks dalam usia yang sangat muda sekali. Sama seperti Hary yang sudah ketagihan seks dengan gw.


gw raba kontol Putra yang sudah mengeras. Dia sudah menindih tubuh gw dan mencari-cari lubang memek gw. gw menuntunnya dan memasukkan kontolnya ke lubang gw. Begitu cepatnya kontol itu memasuki lubang gw dan Putra segera mengocoknya lembut disana. Kontol Putra sama besarnya dengan kontol Hary.

Ketika ujung pentil gw digigit-gigitnya, gw menggelinjang. gw mulai merasakan nikmatnya. Kami berpelukan dan saling menggoyang. Putra jauh lebih pintar dari Hary, apalagi jika dibandingkan dengan Leo yang sudah 19 tahun itu. gw mengangkat kedua kaki gw tinggi-tinggi agar kontol Putra kebih leluasa keluar-masuk.


"Ma, mulai sekarang, mama nggak boleh lagi sama Hary. Putra yang akan menggantikan Hary." katanya sembari terus mengocokkan kontolnya ke memek gw.


"Iya, Sayang," gw menyahut pendek.

"Daripada mama berikan dia celana, kan lebih bagus mama berikan kepada Putra, anak mama sendiri," katanya lagi.


"Iya, Mama janji, Sayang." kata gw.

Kami terus saling memuaskan dan saling menggoyang. Sejak saat itu, kami terus melakukan persetubuhan dan gw tidak mau lagi menggoda laki-laki lain yang merugikan usaha gw.

Putra harus tetap menjadi milikku, bukan milik ayahnya. Lahir batin Putra adalah milik gw.






www.shioharimau.com/register
 
Share on Google Plus

About PaitoHarimauPutih

0 comments:

Post a Comment