Gadis Pemandu Karaoke Yang Montox


Shioharimau.com, Keluarga gw sudah terbilang bahagia karena saya merasa sudah cukup, sebab sudah punya rumah sendiri dan punya mobil walaupun masih kredit, anak sudah punya sepasang, istri juga masih satu belum dua hehehe.keinginan gw mau apalagi? Awalnya mulanya dari iseng iseng dan menjadi keterusan.

Padahal istri gw juga cantik dan selalu menggairahkan dalam berhubungan tapi namanya juga pria ya ada sifat untuk hal lain, seakan akan belum puas, singkat cerita awalnya begini gw cuma iseng-iseng main ke sebuah klub karaoke. Tidak disangka di sana banyak juga gadis-gadis cantik berusia remaja. Tingkah laku mereka sangat menggoda. Dan mereka memang sengaja datang ke sana untuk mencari kesenangan. Tapi tidak sedikit yang sengaja mencari laki-laki hidung belang.

Terus terang waktu itu bw sebenarnya tertarik dengan salah seorang gadis di sana. Wajahnya cantik, Tubuhnya juga padat dan sintal,  gw liatnya kuning langsat. Dan gw memperkirakan umurnya tidak lebih dari dua puluh tahun.

gw ingin mendekatinya, tapi ada keraguan dalam hati. gw hanya memandanginya saja sambil menikmati minuman ringan, dan mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan pengunjung secara bergantian.


Tapi sungguh tidak diduga sama sekali ternyata gadis itu tahu kalau gw sejak tadi memperhatikannya. Sambil tersenyum dia menghampiri gw, dan langsung saja duduk disamping gw. Bahkan tanpa malu-malu lagi meletakkan tangannya di atas paha gw. Tentu saja gw sangat terkejut dengan keberaniannya yang gw anggap luar biasa ini.


“Sendirian aja nih…, Omm..”, sapanya dengan senyuman menggoda.


“Eh, iya..”, sahut gw  agak tergagap.

“Perlu teman nggak..?” dia langsung menawarkan diri.


gw tidak bisa langsung menjawab. Sungguh mati, gw benar-benar tidak tahu kalau gadis muda belia ini sungguh pandai merayu.



Sehingga gw tidak sanggup lagi ketika dia minta ditraktir minum. Meskipun baru beberapa saat kenal, tapi sikapnya sudah begitu manja. Bahkan seakan dia sudah lama mengenal gw. Padahal baru malam ini gw datang ke klub karaoke ini dan bertemu dengannya.


Semula gw memang canggung, Tapi lama-kelamaan jadi biasa juga. Bahkan gw mulai berani meraba-raba dan meremas-remas pahanya. Memang dia mengenakan rok yang cukup pendek, sehingga sebagian pahanya jadi terbuka.


Hampir tengah malam gw baru pulang. Sebenarnya gw tidak biasa pulang sampai larut malam begini. Tapi istri gw  tidak rewel dan tidak banyak bertanya.


Sepanjang malam gw tidak bisa tidur. Wajah gadis itu masih terus membayang di pelupuk mata. Senyumnya, dan kemanjaannya membuat gw jadi seperti kembali ke masa remaja.


Esoknya gw datang lagi ke klub karaoke itu, dan ternyata gadis itu juga datang ke sana. Pertemuan kedua ini sudah tidak membuat gw canggung lagi. Bahkan kini gw sudah berani mencium pipinya. Malam itu akau benar-benar lupa pada anak dan istri di rumah.


gw bersenang-senang dengan gadis yang sebaya dengan adik gw. Kali ini gw justru pulang menjelang subuh.


Mungkin karena istri gw tidak pernah bertanya, dan juga tidak rewel. gw jadi keranjingan pergi ke klub karaoke itu. Dan setiap kali datang, selalu saja gadis itu yang menemani gw. Dia menyebut namanya Sinta.


Entah benar atau tidak, gw sendiri tidak peduli. Tapi malam itu tidak seperti biasanya. Sinta mengajak gw keluar meninggalkan klub karaoke. gw menurut saja, dan berputar-putar mengelilingi kota Jakarta dengan kijang kreditan yang belum lunas.


Entah kenapa, tiba-tiba gw punya pikiran untuk membawa gadis ini ke sebuah penginapan. Sungguh gw tidak menyangka sama sekali ternyata Sinta tidak menolak ketika gw mampir di halaman depan sebuah losmen. Dan dia juga tidak menolak ketika gw membawanya masuk ke sebuah kamar yang telah gw pesan.

Jari-jari gw  langsung bergerak aktif menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Bahkan wajahnya dan lehernya gw hujani dengan ciuman-ciuman yang membangkitkan gairah. gw mendengar dia mendesah kecil dan merintih tertahan. gw tahu kalau Sinta sudah mulai dihinggapi kobaran api gairah asmara yang membara.

Perlahan gw membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan satu persatu gw melucuti pakaian yang dikenakan Sinta, hingga tanpa busana sama sekali yang melekat di tubuh Sinta yang padat berisi. Sinta mendesis dan merintih pelan saat ujung lidah gw yang basah dan hangat mulai bermain dan menggelitik puting payudaranya.

Sekujur tubuhnya langsung bergetar hebat saat ujung jari gw  mulai menyentuh bagian tubuhnya yang paling rawan dan sensitif. Jari-jemari gw bermain-main dipinggiran daerah rawan itu. Tapi itu sudah cukup membuat Sinta menggelinjang dan semakin bergairah.

Tergesa-gesa gw menanggalkan seluruh pakaian yang gw kenakan, dan menuntun tangan gadis itu ke arah batang penis gw. Entah kenapa, tiba-tiba Sinta menatap wajah gw , saat jari-jari tangannya menggenggam batang penis kebanggaan gw ini, Tapi hanya sebentar saja dia menggenggam penis gw dan kemudian melepaskannya. Bahkan dia melipat pahanya yang indah untuk menutupi keindahan pagar ayunya.

“Jangan, Omm…”, desah Sinta tertahan, ketika gw mencoba untuk membuka kembali lipatan pahanya.

“Kenapa?” tanya gw sambil menciumi bagian belakang telinganya.

“gw…, hmm, gw…” Sinta tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia malah menggigit bahu gw, tidak sanggup untuk menahan gairah yang semakin besar menguasai seluruh bagian tubuhnya.

Saat itu Sinta kemudian tidak bisa lagi menolak dan melawan gairahnya sendiri, sehingga sedikit demi sedikit lipatan pahanya yang menutupi vaginanya mulai sedikit terkuak, dan gw kemudian merenggangkannya kedua belah pahanya yang putih mulus itu sehingga gw bisa dengan puas menikmati keindahan bentuk vagina gadis muda ini yang mulai tampak merekah.

Dan matanya langsung terpejam saat merasakan sesuatu benda yang keras, panas dan berdenyut-denyut mulai menyeruak memasuki liang vaginanya yang mulai membasah. Dia menggeliat-geliat sehingga membuat batang penis gw jadi sulit untuk menembus lubang vaginanya.

Tapi gw tidak kehilangan akal. gw memeluk tubuhnya dengan erat sehingga Sinta saat itu tidak bisa leluasa menggerak-gerakan lagi tubuhnya. Saat itu juga gw menekan pinggul gw dengan kuat sekali agar serangan gw tidak gagal lagi.

Berhasil!, begitu kepala penis gw memasuki liang vagina Sinta yang sempit, gw langsung menghentakkan pinggul gw ke depan sehingga batang penis gw melesak ke dalam liang vagina Sinta  dengan seutuhnya, seketika itu juga Sinta memekik tertahan sambil menyembunyikan wajahnya di bahu gw, Seluruh urat-urat syarafnya langsung mengejang kaku.

Dan keringat langsung bercucuran membasahi tubuhnya. Saat itu gw juga sangat tersentak kaget, gw  merasakan bahwa batang penis gw seakan merobek sesuatu di dalam vagina Sinta, dan ini pernah gw rasakan pula pada malam pertama gw, saat gw mengambil kegadisan dari istri gw.

gw hampir tidak percaya bahwa malam ini gw juga mengambil keperawanan dari gadis yang begitu gw sukai ini. Dan gw seolah masih tidak percaya bahwa Sinta ternyata masih perawan.

gw bisa mengetahui ketika gw raba pada bagian pangkal pahanya, terdapat cairan kental yang hangat dan berwarna merah. gw benar-benar terkejut saat itu, dan tidak menyangka sama sekali, Sinta  tidak pernah mengatakannya sejak semula. Tapi itu semua sudah terjadi. Dan rasa terkejut gw seketika lenyap oleh desakan gairah membara yang begitu berkobar-kobar.

gw mulai menggerak-gerakan tubuh gw, agar penis gw dapat bermain-main di dalam lubang vagina Sinta yang masih begitu rapat dan kenyal, Sementara Sinta sudah mulai tampak tidak kesakitan dan sesekali tampak di wajahnya dia sudah bisa mulai merasakan kenikmatan dari gerakan-gerakan maju mundur penis gw seakan membawanya ke batas ujung dunia tak bertepi.

Malam itu juga Sinta menyerahkan keperawannya pada gw tanpa ada unsur paksaan. Meskipun dia kemudian menangis setelah semuanya terjadi, Dan gw sendiri merasa menyesal karena gw tidak mungkin mengembalikan keperawanannya.

gw memandangi bercak-bercak darah yang mengotori sprei sambil memeluk tubuh Sinta yang masih polos dan sesekali masih terdengar isak tangisnya.

“Maafkan gw , Sinta. gw tidak tahu kalau kamu masih perawan. Seharusnya kamu bilang sejak semula…”, kata gw mencoba menghibur.

Reny hanya diam saja. Dia melepaskan pelukan gw dan turun dari pembaringan. Dia melangkah gontai ke kamar mandi. Sebentar saja sudah terdengar suara air yang menghantam lantai di dalam kamar mandi.

Sedangkan gw masih duduk di ranjang ini, bersandar pada kepala pembaringan.

gw menunggu sampai Sinta keluar dari kamar mandi dengan tubuh terlilit handuk dan rambut yang basah.

gw terus memandanginya dengan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada. Bagaimanapun gw  sudah merenggut kegadisannya. Dan itu terjadi tanpa dapat dicegah kembali. Sinta duduk disisi pembaringan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.

gw memeluk pinggangnya, dan menciumi punggungnya yang putih dan halus. Sinta menggeliat sedikit, tapi tidak menolak ketika gw membawanya kembali berbaring di atas ranjang. Gairah gw kembali bangkit saat handuk yang melilit tubuhnya terlepas dan terbentang pemandangan yang begitu menggairahkan datang dari keindahan kedua belah payudaranya yang kencang dan montok, serta keindahan dari bulu-bulu halus tipis yang menghiasi di sekitar vaginanya.

Dan secepat kilat gw kembali menghujani tubuhnya dengan kecupan-kecupan yang membangkitkan gairahnya. Sinta merintih tertahan, menahan gejolak gairahnya yang mendadak saja terusik kembali.

“Pelan-pelan, Omm. Perih…”, rintih Sinta tertahan, saat gw mulai kembali mendobrak benteng pagar ayunya untuk yang kedua kalinya. Sinta menyeringai dan merintih tertahan sambil mengigit-gigit bibirnya sendiri, saat gw sudah mulai menggerak-gerakan pinggul gw dengan irama yang tetap dan teratur.

Perlahan tapi pasti, Sinta mulai mengimbangi gerakan tubuh gw . Sementara gerakan-gerakan yang gw lakukan semakin liar dan tak terkendali. Beberapa kali Sinta memekik tertahan dengan tubuh terguncang dan menggeletar bagai tersengat kenikmatan klimaks ribuan volt.

Kali ini Sinta mencapai puncak orgasme yang mungkin pertama kali baru dirasakannya. Tubuhnya langsung lunglai di pembaringan, dan gw merasakan denyutan-denyutan lembut dari dalam vaginanya, merasakan kenikmatan denyut-denyut vagina Sinta , membuat gw hilang kontrol dan tidak mampu menahan lagi permainan ini.

Hingga akhirnya gw merasakan kejatan-kejatan hebat disertai kenikmatan luar biasa saat cairan sperma gw muncrat berhamburan di dalam liang vagina Sinta
. gw pun akhirnya rebah tak bertenaga dan tidur berpelukan dengan Sinta malam itu




www.shioharimau.com/register


Share on Google Plus

About PaitoHarimauPutih

0 comments:

Post a Comment